Kamis, 27 Desember 2012

Perjanjian Pra Nikah (My version)



ARTIS sekaligus aktifis, Rieke Diah Pitaloka, sebelum duduk sebagai legislator Senayan pernah beberapa kali saya lihat di televisi menjelaskan kepada publik soal kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Saat itu Rieke bilang, bahwa kekerasan bukan hanya dilakukan secara fisik, tapi juga bisa secara verbal atau kata-kata. “Dengan mengatai perempuan itu kerjanya hanya di dapur, itu juga merupakan kekerasan terhadap perempuan,” ucap Rieke saat itu.
Saya ingin bercerita sedikit kisah keluarga saya dalam tulisan ini terkait kekerasan terhadap perempuan. Bukan bertujuan mengungkap kebobrokan sebuah keluarga yang kini telah hancur, tapi saya ingin menjadikan keluarga saya sebagai bukti bahwa kekerasan dalam rumah tangga, khususnya pada perempuan bukan hanya secara fisik saja tapi juga verbal.
Dengan latar belakang keluarga yang berbeda dari keluarga pada umumnya, saya menjadi sedikit banyak memahami apa arti kekerasan dalam rumah tangga, khususnya pada perempuan. Saya juga memiliki rasa penasaran yang kuat untuk mencari kekuatan agar bisa menaklukan ingatan buruk di balik banyak kekerasan yang saya lihat dan saya alami.
Ayah saya kerap melakukan kekerasan terhadap ibu saya. Bukan secara fisik, melainkan kata-kata. Tak jarang, saya menjadi saksi atas setiap tetesan airmata ibu. Bagi saya, kekerasan secara fisik sakitnya akan hilang seiring dengan sembuhnya luka di tubuh. Tapi kekerasan secara verbal, takkan hilang dari ingatan atas luka dalam hati.
Sebagai perempuan yang selalu ditempatkan pada sisi yang lemah, ibu akan memilih untuk menangis di dapur saat ayah saya melampiaskan kemarahannya karena mungkin lelah mencari nafkah untuk kami. Ibu juga memilih untuk menangis ketika berulang kali ‘diancam’ perceraian dengan topik perbedaan keyakinan. Ya, ayah berbeda keyakinan dengan ibu dan saya. Namun yang selalu membuat saya salut pada ibu, dalam rasa sakit hati atas perlakuan dan kata-kata kasar ayah, ibu tetap memasak dan membereskan rumah dengan sempurna.
Dan bukan hanya pada ibu, ayah juga sering melampiaskan kemarahan kepada saya. Mendengar teriakan ayah, adalah hal yang paling menakutkan bagi saya waktu itu.
Setiap kali menyaksikan mereka bertengkar, saya membangun mimpi dalam pikiran bahwa kelak saya menikah, saya akan membuat perjanjian pra nikah. Bukan soal harta benda yang nanti saya dan pasangan saya kumpulkan, tapi soal sikap dan perlakukan sebagai pasangan manusia yang diberikan Tuhan hak asasi yang sama.
Dalam benak dan pemikiran saya, saya harus memilih lelaki yang tidak punya latar belakang pengecut ataupun berniat menjadi pengecut. Ia haruslah santun dalam memperlakukan perempuan, karena saya akan sangat menghargai dia sebagai seorang lelaki yang saya cintai. Ia jangan mengungkapkan kata-kata yang kasar dan merendahkan saya sebagai perempuan, karena saya akan menghormati setiap ucapannya. Ia jangan pernah memandang rendah kepada saya, karena tidak menempatkan dirinya di bawah saya. Ia juga jangan pernah mencoba untuk selingkuh karena saya akan setia padanya sampai maut memisahkan.
Seperti itulah bayangan saya tentang isi perjanjian pra nikah saya kelak. Kedengarannya seperti berlebihan, tapi itu lah saya, pribadi yang dibesarkan dari banyak kejadian dasyat. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar