ARTIS sekaligus aktifis, Rieke Diah Pitaloka,
sebelum duduk sebagai legislator Senayan pernah beberapa kali saya lihat di
televisi menjelaskan kepada publik soal kekerasan terhadap perempuan dan
kekerasan dalam rumah tangga.
Saat itu Rieke bilang, bahwa kekerasan bukan hanya dilakukan
secara fisik, tapi juga bisa secara verbal atau kata-kata. “Dengan mengatai
perempuan itu kerjanya hanya di dapur, itu juga merupakan kekerasan terhadap
perempuan,” ucap Rieke saat itu.
Saya ingin bercerita sedikit kisah keluarga saya dalam tulisan
ini terkait kekerasan terhadap perempuan. Bukan bertujuan mengungkap kebobrokan
sebuah keluarga yang kini telah hancur, tapi saya ingin menjadikan keluarga
saya sebagai bukti bahwa kekerasan dalam rumah tangga, khususnya pada perempuan
bukan hanya secara fisik saja tapi juga verbal.
Dengan latar belakang
keluarga yang berbeda dari keluarga pada umumnya, saya menjadi sedikit banyak
memahami apa arti kekerasan dalam rumah tangga, khususnya pada perempuan. Saya juga
memiliki rasa penasaran yang kuat untuk mencari kekuatan agar bisa menaklukan ingatan
buruk di balik banyak kekerasan yang saya lihat dan saya alami.
Ayah saya kerap melakukan kekerasan terhadap ibu saya. Bukan
secara fisik, melainkan kata-kata. Tak jarang, saya menjadi saksi atas setiap
tetesan airmata ibu. Bagi saya, kekerasan secara fisik sakitnya akan hilang
seiring dengan sembuhnya luka di tubuh. Tapi kekerasan secara verbal, takkan
hilang dari ingatan atas luka dalam hati.
Sebagai perempuan yang selalu ditempatkan pada sisi yang lemah, ibu
akan memilih untuk menangis di dapur saat ayah saya melampiaskan kemarahannya
karena mungkin lelah mencari nafkah untuk kami. Ibu juga memilih untuk menangis
ketika berulang kali ‘diancam’ perceraian dengan topik perbedaan keyakinan. Ya,
ayah berbeda keyakinan dengan ibu dan saya. Namun yang selalu membuat saya
salut pada ibu, dalam rasa sakit hati atas perlakuan dan kata-kata kasar ayah,
ibu tetap memasak dan membereskan rumah dengan sempurna.
Dan bukan hanya pada ibu, ayah juga sering melampiaskan
kemarahan kepada saya. Mendengar teriakan ayah, adalah hal yang paling
menakutkan bagi saya waktu itu.
Setiap kali menyaksikan mereka bertengkar, saya membangun mimpi
dalam pikiran bahwa kelak saya menikah, saya akan membuat perjanjian pra nikah.
Bukan soal harta benda yang nanti saya dan pasangan saya kumpulkan, tapi soal
sikap dan perlakukan sebagai pasangan manusia yang diberikan Tuhan hak asasi
yang sama.
Dalam benak dan pemikiran saya, saya harus memilih lelaki yang
tidak punya latar belakang pengecut ataupun berniat menjadi pengecut. Ia
haruslah santun dalam memperlakukan perempuan, karena saya akan sangat
menghargai dia sebagai seorang lelaki yang saya cintai. Ia jangan mengungkapkan
kata-kata yang kasar dan merendahkan saya sebagai perempuan, karena saya akan
menghormati setiap ucapannya. Ia jangan pernah memandang rendah kepada saya, karena
tidak menempatkan dirinya di bawah saya. Ia juga jangan pernah mencoba untuk
selingkuh karena saya akan setia padanya sampai maut memisahkan.
Seperti itulah bayangan saya tentang isi perjanjian pra nikah
saya kelak. Kedengarannya seperti berlebihan, tapi itu lah saya, pribadi yang
dibesarkan dari banyak kejadian dasyat. (bersambung)
