Minggu, 20 April 2014

Kartini 'Pesolek' Gedung Cengkih

TANGGAL 21 April selalu diperingati sebagai hari emansipasi perempuan di Indonesia, tak terkecuali para Kartini Politik di Gedung Cengkih, tempat para wakil rakyat Sulut ngantor sehari-hari.
Sejak legislator periode 2009-2014 dilantik lima tahun silam, para anggota dewan perempuan yang duduk di kursi rakyat dinilai banyak pihak tidak akan banyak berbuat. Mereka dianggap hanya sebagai 'pemandangan indah' di kantor DPRD. Yang menebar keharuman menenangkan saat tensi politik naik.
Padahal dua legislator perempuan, yakni Meiva Salindeho-Lintang STh dan Sus Sualang-Pangemanan duduk sebagai wakil pimpinan DPRD. Meiva sebagai ketua, sedangkan Sus sebagai satu dari tiga wakil ketua.
Sejumlah legislator perempuan lainnya menempati posisi penting di alat kelengkapan dewan dan menjadi pimpinan fraksi. Sebut saja Netty Agnes Pantow yang merupakan mantan Ketua Fraksi Partai Demokrat, Elisabeth Lihiang wakil ketua Komisi I, Ivone Bentelu Sekretaris Komisi IV, Winda Titah Sekretaris Fraksi Barindra dan Rosmawati Nasaru sebagai Sekretaris Fraksi Persatuan Nasional, serta Cindy Wurangian Sekretaris Fraksi Partai Golkar.
Namun tak semua Kartini politik kita, bekerja layaknya seorang wakil rakyat terhormat, yang mengabdikan dirinya pada kepentingan rakyat. Mereka malah terkesan sebagai pelengkap dalam kepemimpinan di fraksi, komisi atau alat kelengkapan dewan lainnya. Mereka bak 'pesolek' gedung perwakilan rakyat saja.
Ada yang perannya meramaikan, ada pula yang benar-benar menghayati perannya sebagai sosok yang memikul amanat rakyat di pundaknya. Ada yang jadi 'boneka' cantik yang penampilannya ditunggu-tunggu. Tapi tak sedikit pula yang garang bak singa betina beradu argumen di rapat-rapat yang digelar di DPRD Sulut.
Hal ini jelas kasat bagi mata rakyat dalam setiap rapat paripurna. Ada legislator perempuan yang sekedar menjadi 'alat' fraksi membacakan laporan fraksinya, ada pula mereka yang lantang bersuara untuk rakyat, meski ia harus bertentangan dengan banyak kepentingan, termasuk kepentingan fraksinya.
Yang menggelitik dan mengundang perhatian, sejumlah legislator perempuan lebih menikmati memainkan ponselnya di rapat-rapat paripurna. Hanya duduk sebentar, kemudian minta izin ke toilet, lalu tak pernah kembali.
Absensi para legislator perempuan juga paling amburadul. Sejumlah legislator perempuan, banyak yang malas masuk kantor. Bahkan ada anggota dewan yang tiga bulan tak muncul di kantor untuk rapat, kecuali saat akan terima gaji atau mengurus perjalanan dinas. Malah ada anggota dewan yang isi absen di pesawat, alias bertemu legislator lain hanya saat terbang saja. Berdasarkan catatan harian ini, banyak legislator perempuan yang jarang terlihat ngantor. Di antaranya Diana Rogi, Felly Runtuwene, Winda Titah dan Feronica Ponto serta Cindy Wurangian. Mereka biasanya muncul pada saat-saat tertentu saja, jika ada kepentingan yang berkaitan dengan mereka pribadi.
Aksi para politisi perempuan ini, kerap menjadi topik pembicaraan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pers, pemerhati politik, hingga para sesama anggota dewan.
Seperti misalnya dalam rapat dengar pendapat yang digelar di DPRD. Para legislator perempuan tak ayal menjadi pelengkap absensi agar rapat bisa kuorum mengambil keputusan. Hanya datang, duduk dan diam.
Ada pula yang terlihat konsentrasi mendengarkan para anggota dewan lain bicara dan adu argumen, ada pula yang sibuk mencatat perbincangan rapat bak seorang notulen. Tapi hingga rapat berakhir, mereka hanya diam dan tak memainkan perannya sebagai seorang legislator.
Sungguh di luar ekpektasi masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan emansipasi dan kesetaraan gender. Melihat sepak terjang perempuan di DPRD Sulut yang kurang greget, seakan menjadi bukti, paras cantik, kaya dan dekat dengan kekuasaan bisa membawa perempuan duduk di parlemen.
Akan tetapi, tak semua legislator perempuan hanya menjadi penghias semata. Ada yang benar-benar menjadi 'pesolek' DPRD Sulut. Mereka mempercantik parlemen kita bak seorang srikandi yang cantik dan berani. Mereka tak takut beragumen dan adu kecerdasan dengan dengan para legislator pria, baik dalam rapat-rapat dengar pendapat, pembahasan anggaran hingga menerima unjuk rasa.
Mereka juga lihai memainkan perannya sebagai seorang wakil rakyat, agar aspirasi masyarakat bisa mereka menangkan. Sebut saja Meiva Salindeho-Lintang, Netty Pantow, Elisabeth Lihiang dan Ivone Bentelu. Empat legislator ini, sering harus meninggikan suaranya untuk adu suara dengan para legislator pria. Dalam setiap rapat pun, mereka selalu punya pertanyaan dan pernyataan yang disampaikan di forum. Saat menerima unjuk rasa pun, mereka tak segan tampil tegas. Begitupun dalam pemberitaan media massa, tak jarang mereka muncul tampil dengan pernyataan-pernyaatan cerdas.
Dan pada periode 2014-2019 yang akan segera bergulir, banyak perempuan yang menggantungkan harapan pada caleg perempuan yang akan duduk di kursi rakyat di Gedung Cengkih, di antaranya mungkin tak perlulah menulis buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang' seperti ibu Kartini, tapi lantangkanlah suara perempuan di gedung rakyat. Percantiklah Gedung Cengkih dengan kiprah dan perjuanganmu bagi perempuan Sulut. (*)

2 komentar:

  1. Seharusnya mereka dihukum dg cara JANGAN DIPILIH LAGI. Dan tuk hukuman selanjutnya, biar TUHAN yang turun tangan. Ya kan, bukan begituh bu. Hehehe

    BalasHapus
  2. Haha.. soal untuk hukuman aku angkat topi deh.. hahaha. angkat tangan maksudnya Bud...

    BalasHapus