Senin, 04 Maret 2013

Kembali pada Tubuhmu



Aku mengenalmu
Tanpa sengaja, tanpa direncana
Aku memandangmu dalam bibir keluh
Hanya hati berbisik, “Dia lah orangnya”
Aku tersenyum dan pikiranku berujar,
“Semoga hatiku tak salah kali ini”

Dan tak kusangka kau menyapaku
Meyakinkan aku bahwa bahagia adalah milikku
Dan kau  adalah bahagiaku

Aku terkejut seraya meyakinkan hati

Lalu malamku tiba-tiba terang benderang
Pagiku lebih cerah dari biasanya
Senyumku merekah
Aku mencintaimu sampai dalam tulang

Tak peduli harus menunggu
Hanya meyakini bahwa jika tulang rusuk ini milikmu
Aku pasti akan kembali pada tubuhmu
Pasti

Minggu, 06 Januari 2013

Berhenti Bermimpi



SETELAH perjalanan panjang yang tak terhitung lelahnya, aku pun berhenti menangis. Aku, ragaku letih. Hati ini pun mengering karena darahnya terus mengucur perih membasahi sukma.

Setelah perjalanan panjang dengannya, kali ini aku tak memiliki kekuatan untuk bertanya, “Mengapa aku?”. Dia (selalu) diam semiliar kata. Tak ada jawaban, hanya senyuman hambar menyambar mataku.

Kemudian penyesalan menghampiri tak mampu kubendung. Benci pun tak kuasa kuredam, malah dendam kini merasuk. Segala tanya tak pernah ada jawaban, hanya gerak bibir keluh tanpa suara mengundang penat jiwa.

“Andai bisa kubalas”. Hatiku nyinyir atas rasa sakit yang teramat perih.

Aku benci ada di sini.

Airmata mengering dihempas badai dan dihapus hujan. “Tega sekali dia padaku,” rintihku tak percaya.

Aku pun terdiam dalam sujud. Aku berhenti bermimpi. Ini kenyataan, betapapun rasa sakitnya.

Lalu terlintas ucapku padanya beribu-ribu hari yang lalu. “Aku berharap kau takkan pergi saat aku terpuruk dalam perih, saat bintangku bersinar, saat matahari meredupkan hangatnya. Karena aku takkan pernah meninggalkanmu. Tak peduli musim apa yang sedang kau alami, aku akan tetap di dekatmu”