Selasa, 03 April 2012

Aku dan Lelaki yang (tak) Mencintaiku (lagi)


Aku dan  Lelaki yang (tak) Mencintaiku (lagi)

AKU menarik nafas dalam, saat lelaki yang kucintai berkata padaku, bahwa kami harus berakhir. Aku diam membisu.
Aku tak ingin bertanya. Aku tak ingin memperoleh jawaban. Aku ingin lelaki itu tahu, aku pasrah pada takdir. “Ini yang terbaik,” bisikku pada hatiku. 
Malam itu, aku menjadi wanita yang paling tersakiti di muka bumi ini. Hatiku menjadi hati yang paling terluka di jagat raya ini.
Namun aku terus diam, walaupun aku tak mampu membendung air mata yang mulai mengalir deras di pipiku. “Pergilah, sudah saatnya,” desahku pada hatiku.
Dan malam itu, adalah yang terakhir aku bertemu dengannya. Hanya bisa memandang punggungnya yang berlalu dari ujung mataku.
Aku ingin memakinya, menamparnya dan meludahi wajahnya ketika ia berkata padaku, “Aku bukan untukmu”.
“O betapa hebat aktingmu,” puji hatiku merana.
Tapi tersayat saat kau berucap, “Terima kasih untuk semuanya, maafkan aku”. 
“Munafik. Kau jahat sejahat hatimu,” desahku pelan merintih.
Nafasku berhenti saat leherku tercekik rasa perih yang mengalir menusuk jantungku.
Aku pasrah pada luka teramat dalam yang membuatku tak berdaya. Menahun bersamanya bukan sesaat. Tak cukup kata merangkai cerita. Tak cukup pula airmata untuk menuliskannya.
Dan sekali lagi, aku hanya bisa diam. Aku pasrah. Aku tegarkan jiwa dan mengundang keikhlasan.
Malam itu, yang kutahu, dia menemukan cinta baru, yang lebih sempurna.
Malam itu, yang kutahu, dia mencapai titik lelah tertinggi mencintaiku.
Tapi hari ini, semua rasa perih itu tak ada lagi. Aku mensyukuri kau tak di sini denganku.
Dan kali ini kau benar. Sungguh benar. Aku bukan untukmu.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar