Aku dan Lelaki yang (tak) Mencintaiku (lagi)
AKU menarik nafas dalam, saat lelaki yang
kucintai berkata padaku, bahwa kami harus berakhir. Aku diam membisu.
Aku tak ingin bertanya. Aku tak ingin
memperoleh jawaban. Aku ingin lelaki itu tahu, aku pasrah pada takdir. “Ini
yang terbaik,” bisikku pada hatiku.
Malam itu, aku menjadi wanita yang paling
tersakiti di muka bumi ini. Hatiku menjadi hati yang paling terluka di jagat
raya ini.
Namun aku terus diam, walaupun aku tak
mampu membendung air mata yang mulai mengalir deras di pipiku. “Pergilah, sudah
saatnya,” desahku pada hatiku.
Dan malam itu, adalah yang terakhir aku
bertemu dengannya. Hanya bisa memandang punggungnya yang berlalu dari ujung
mataku.
Aku ingin memakinya, menamparnya dan
meludahi wajahnya ketika ia berkata padaku, “Aku bukan untukmu”.
“O betapa hebat aktingmu,” puji hatiku
merana.
Tapi tersayat saat kau berucap, “Terima
kasih untuk semuanya, maafkan aku”.
“Munafik. Kau jahat sejahat hatimu,”
desahku pelan merintih.
Nafasku berhenti saat leherku tercekik rasa
perih yang mengalir menusuk jantungku.
Aku pasrah pada luka teramat dalam yang membuatku
tak berdaya. Menahun bersamanya bukan sesaat. Tak cukup kata merangkai cerita.
Tak cukup pula airmata untuk menuliskannya.
Dan sekali lagi, aku hanya bisa diam. Aku
pasrah. Aku tegarkan jiwa dan mengundang keikhlasan.
Malam itu, yang kutahu, dia menemukan cinta
baru, yang lebih sempurna.
Malam itu, yang kutahu, dia mencapai titik lelah
tertinggi mencintaiku.
Tapi hari ini, semua rasa perih itu tak ada
lagi. Aku mensyukuri kau tak di sini denganku.
Dan kali ini kau benar. Sungguh benar. Aku
bukan untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar