Nafasku berhenti saat leherku tercekik rasa
perih yang mengalir menusuk jantungku.
Aku pasrah pada luka teramat dalam yang membuatku
tak berdaya. Menahun bersamanya bukan sesaat. Tak cukup kata merangkai cerita.
Tak cukup pula airmata untuk menuliskannya.
Dan sekali lagi, aku hanya bisa diam. Aku
pasrah. Aku tegarkan jiwa dan mengundang keikhlasan.
Malam itu, yang kutahu, dia menemukan cinta
baru, yang lebih sempurna.
Malam itu, yang kutahu, dia mencapai titik lelah
tertinggi mencintaiku.
Tapi hari ini, semua rasa perih itu tak ada
lagi. Aku mensyukuri kau tak di sini denganku.
Dan kali ini kau benar. Sungguh benar. Aku
bukan untukmu.