Minggu, 08 April 2012

Kini Kumengerti


Kini Kumengerti


Ribuan hari, jutaan cerita
Ribuan hari, jutaan kisah

Ribuan hari, jutaan tawa
Ribuan hari, jutaan air mata

Kini kumengerti
Semua itu hanya cerita

Kini kupahami
Semua itu hanya kisah

Kini kumengerti
Semua itu hanya tawa

Kini kumengerti
Semua itu hanya airmata

Tak berbekas bagimu, tapi bagiku
Torehannya tak mampu kupudarkan apalagi kuhapus

Akan tetap ada di sini
Dalam hati dan terukir pada sukma

Kini kumengerti
Telah kupahami

Selasa, 03 April 2012

Aku, dia, kita


Aku, dia, kita


Aku, dia  dan kita adalah takdir
Juga adalah keinginan yang tak bisa kita tahan
Juga adalah kehendak yang tak bisa kita hentikan

Aku, dia dan kita adalah suratan
Juga adalah jalan yang tak bisa kita halau
Juga adalah langkah yang tak mampu kita hentikan

Dan aku ingin mengakhir kita, tanpa harus melukai dia
Tapi aku juga ingin memelukmu, tanpa harus membuatnya menangis

Dalam setiap tanya, aku tak memperoleh jawaban
Di setiap tetesan airmata pun, aku tak melihat harapan

Aku ingin pergi, tinggalkan kau, dia dan menyelesaikan kita
Dan akan ku sujud sampai mencium tanah dan memeluk debu
Tuhan, aku ingin pulang…


                                                                                                      @Four Season, Jan 23th 2010

Aku dan Lelaki yang (tak) Mencintaiku (lagi)


Aku dan  Lelaki yang (tak) Mencintaiku (lagi)

AKU menarik nafas dalam, saat lelaki yang kucintai berkata padaku, bahwa kami harus berakhir. Aku diam membisu.
Aku tak ingin bertanya. Aku tak ingin memperoleh jawaban. Aku ingin lelaki itu tahu, aku pasrah pada takdir. “Ini yang terbaik,” bisikku pada hatiku. 
Malam itu, aku menjadi wanita yang paling tersakiti di muka bumi ini. Hatiku menjadi hati yang paling terluka di jagat raya ini.
Namun aku terus diam, walaupun aku tak mampu membendung air mata yang mulai mengalir deras di pipiku. “Pergilah, sudah saatnya,” desahku pada hatiku.
Dan malam itu, adalah yang terakhir aku bertemu dengannya. Hanya bisa memandang punggungnya yang berlalu dari ujung mataku.
Aku ingin memakinya, menamparnya dan meludahi wajahnya ketika ia berkata padaku, “Aku bukan untukmu”.
“O betapa hebat aktingmu,” puji hatiku merana.
Tapi tersayat saat kau berucap, “Terima kasih untuk semuanya, maafkan aku”. 
“Munafik. Kau jahat sejahat hatimu,” desahku pelan merintih.
Nafasku berhenti saat leherku tercekik rasa perih yang mengalir menusuk jantungku.
Aku pasrah pada luka teramat dalam yang membuatku tak berdaya. Menahun bersamanya bukan sesaat. Tak cukup kata merangkai cerita. Tak cukup pula airmata untuk menuliskannya.
Dan sekali lagi, aku hanya bisa diam. Aku pasrah. Aku tegarkan jiwa dan mengundang keikhlasan.
Malam itu, yang kutahu, dia menemukan cinta baru, yang lebih sempurna.
Malam itu, yang kutahu, dia mencapai titik lelah tertinggi mencintaiku.
Tapi hari ini, semua rasa perih itu tak ada lagi. Aku mensyukuri kau tak di sini denganku.
Dan kali ini kau benar. Sungguh benar. Aku bukan untukmu.  

Jika Ternyata


Jika Ternyata

Jika (ternyata) kau (pernah) berniat meninggalkanku sendiri ,
dengan keyakinan bahwa sayap-sayapku yang patah sudah cukup kuat untuk terbang,
sesungguhnya kau telah meremukan segalanya.

Aku takkan mampu terbang lagi
Bukan hanya untuk sekarang, namun selamanya.

Jika (ternyata) kau (pernah) berniat pergi dariku,
karena kau merasa sudah menyembuhkan luka hatiku,
maka sesungguhnya kau baru saja menyayat luka baru yang lebih dalam lagi.

Dan jika (ternyata) kau (pernah) berniat untuk menghilang,
sebaiknya kau tak perlu menunggu lama.
Pergi saja!  

Aku  siap kau tinggalkan sekarang. Bukan nanti.
Jangan menunggu terlalu lama  dan membunuhku perlahan

Dan sebelum kau beranjak, kuingin kau tahu,
Di setiap detik bersamamu adalah kebahagiaan
yang aku inginkan lebih dari apapun.


Senin, 02 April 2012

Engkau yang Kuingini di Bumi


Engkau yang Kuingini di Bumi

Aku tertawa
Terbahak-bahak
Melupakan perih di hati

Aku bergelimang keinginan
Berlumpur hasrat batin
Melupakan tangis


Aku tak ingin di sini
Dan mulai melupakan-Mu

Aku ingin menangis
Terisak-isak
Melupakan kesenangan

Aku ingin merintih
Mengaduh
Menjerit
Asal aku dengan-Mu
Engkau yang kuingini di bumi
Dalam peluk-Mu, selalu!