Aku tersungkur. Tulang-tulangku melemah. Tak kuasa kumengejarmu apalagi menahan langkahmu. Kian pasti kutatap nanar. Engkau menjauh. Airmata kembali menetes atas perih ini.
Aku harus menunggu. Itu desah batinku saat melihat langkahmu beranjak dariku. Bibirku keluh. Tak satu katapun terucap. Dan aku hanya bisa terus menangis.
Kemudian…
Aku merintih. “Pergilah. Terbanglah. Aku ikhlaskan”
Aku bukan yang kau inginkan. Tak cukup sempurna untuk membuatmu tinggal selamanya. Kau berhak memutuskan ke mana kakimu beranjak dan kemana sayapmu kau kepakkan.
Aku mengaduh. “Perih. Pedih. Mengapa bukan aku?”
Tak kuat aku kau tinggalkan.
Tapi aku takkan terjatuh. Demi kau, aku akan berdiri tegak. Meski tak kau dekap.
"Aku harus bertahan," bisikku dalam hati. Pikiranku teriris-iris tak mampu kugiring menuju kepalaku. Airmata terus menetes atas risau ini.
Aku di sini. Masih di sini. Selalu di sini. Untukmu, hingga akhir menutup mata…