SETELAH perjalanan panjang yang tak terhitung lelahnya, aku pun berhenti menangis. Aku, ragaku letih. Hati ini pun mengering karena darahnya terus mengucur perih membasahi sukma.
Setelah perjalanan panjang dengannya, kali
ini aku tak memiliki kekuatan untuk bertanya, “Mengapa aku?”. Dia (selalu) diam
semiliar kata. Tak ada jawaban, hanya senyuman hambar menyambar mataku.
Kemudian penyesalan menghampiri tak mampu
kubendung. Benci pun tak kuasa kuredam, malah dendam kini merasuk. Segala tanya
tak pernah ada jawaban, hanya gerak bibir keluh tanpa suara mengundang penat
jiwa.
“Andai bisa kubalas”. Hatiku nyinyir atas
rasa sakit yang teramat perih.
Aku benci ada di sini.
Airmata mengering dihempas badai dan
dihapus hujan. “Tega sekali dia padaku,” rintihku tak percaya.
Aku pun terdiam dalam sujud. Aku berhenti
bermimpi. Ini kenyataan, betapapun rasa sakitnya.
Lalu terlintas ucapku padanya beribu-ribu
hari yang lalu. “Aku berharap kau takkan pergi saat aku terpuruk dalam perih,
saat bintangku bersinar, saat matahari meredupkan hangatnya. Karena aku takkan
pernah meninggalkanmu. Tak peduli musim apa yang sedang kau alami, aku akan
tetap di dekatmu”